Hubungan Emosional Prabowo dan Aceh, dari Soemitro hingga Rekonsiliasi GAM



Hal itu disampaikan Prabowo saat menghadiri silaturahmi ulama dan tokoh masyarakat mengenang 19 tahun tsunami Aceh di Hermes Hotel Banda Aceh, Selasa (26/12).

Prabowo menceritakan, ayahnya Soemitro Djojohadikoesoemo merupakan perintis Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala. Prabowo pun berkisah mengenai ayahnya yang begitu bangga dapat berkontribusi dan memberikan kuliah kepada mahasiswa di Aceh.





“Orang tua saya, Prof Soemitro dari awal sangat dekat dengan tokoh-tokoh Aceh dan beliau ikut merintis pendirian Fakultas Ekonomi Syiah Kuala,” kata Prabowo.

Tidak sampai di situ, sang ayah juga berjuang bersama masyarakat Aceh di masa-masa sulit, khususnya saat terjadi pergolakan di tahun 1950-an.

“Di tahun 50-an, di mana Indonesia mengalami pergolakan karena masalah-masalah ideologi. Sesudah itu pun hubungan emosional saya tidak berhenti, karena saya juga terus menerus berhubungan baik, dan puncaknya saya bisa bersatu dengan tokoh-tokoh dari Partai Aceh,” lanjut Prabowo.

Prabowo juga menceritakan proses rekonsiliasi dengan Panglima Gerakan Aceh Merdeka, Muzakir Manaf. Bagi Prabowo, rekonsiliasi tersebut sebagai kejadian langka dan di luar pemikiran banyak orang.

“Saya mantan Panglima Kostrad, Jenderal Kopassus, sementara Pak Muzakir Manaf merupakan mantan Panglima Aceh, dan kok kita bisa bersatu. Ini yang di luar pemikiran banyak orang,” kata Prabowo.

Saat ini, Prabowo berharap kepada masyarakat Aceh dan Indonesia pada umumnya untuk saling mendukung dan berjuang bersama dalam pesta demokrasi pemilihan presiden.

“Kita saling merangkul, jadi ini yang buat saya selalu emosional, puncaknya pemilihan presiden lalu. Saya dapat dukungan paling besar di Aceh,” tutupnya.



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *